Bangkit dari Keterpurukan

Sesampainya di depan rumah. Kila terkejut ketika melihat bendera kuning berkibar bercampur banyaknya isak tangis dari dalam rumahnya. Tak menunggu lama, kila lari masuk ke dalam rumah dan melihat sosok yang ia bangga banggakan telah diselimuti kain kafan.
Kilan yang sudah tak tahan menahan sedihnya pun mengutarakan semuanya di depan jasad ayahnya. Mungkin ini hari terakhir ia bisa memeluk erat ayahnya.
"Ayahh.... Kenapa ayah tinggalin Kila, Kila masih butuh Ayah. Ayah yang selalu memotivasi Kila untuk tetap kuat menghadapi semua tantangan kehidupan, tapi... Kenapa ayah tak mau melihat Kila sukses duluu..." ujar Kila dengan haru memeluk almarhum ayahnya.
Kejadian tersebut membuat kila berubah drastis. Kila yang dulunya dikenal sebagai anak berprestasi dan selalu akrab dengan temannya kini telah berubah menjadi seorang anak yang pendiam dan lebih memilih melakukan semuanya sendiri.
Melihat sikap Kila yang berubah akhir akhir ini, Ibu Kila mengajak Kila untuk periksa di klinik terdekat. "Mungkin efek tidak enak badan Kila jadi malas seperti ini" ucap Ibunya.
Tak lama, dokter keluar dari ruang pemeriksaan bersama Kila yang pandangannya kosong seperti tak mengenal dirinya sendiri. Dokter tersebut menjelaskan penyakit yang dialami kila. "Maaf sebelumnya Bu, apa Kila pernah mengalami hal yang membuat dia stress berat akhir akhir ini?"
"Ya dok, kila telah kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Ayahnya meninggal dunia ketika Kila sedang melaksanakan ujian sekolah" ujar Ibu.
"Hmm.,,, Bu, mungkin lantaran kejadian itu. Putri ibu belum bisa mengikhlaskan semuanya. Dia hanya sedikit depresi lantaran belum siap menghadapi kenyataan. Yang bisa ibu lakukan saat ini, coba beri kila sedikit motivasi hidup untuk membuat dia melupakan masalalu nya dan selalu optimis akan kedepannya.." . "baik dok, terimakasih".
Hari demi hari berlalu, tapi usaha ibu untuk membuat kila maju belum juga berhasil. Sampai akhirnya, ibu kila ingin menyerah. Tapi tak disangka, Kila yang sudah berhari hari murung dikamar tiba tiba keluar.
"Ibuuuu........" ucap Kila dengan memeluk Ibunya yang ingin menyerah.
"Maafkan Kila Bu, mungkin karena kepergian Ayah, Kila belum bisa menerimanya, sampai akhirnya semua ini membuat kila berubah. Tapi, tapi... Tapi sekarang kila udah sadar Bu, Kila sudah paham dan Kila juga sudah bisa mengikhlaskan semuanya. Kila sadar lahir dan mati sudah menjadi kodrat semua makhluk Allah. Dan... Sekarang Kila juga udah bisa bangkit dari keterpurukan Kila. Kila yakin kalo kila tetep rajin berusaha seperti dulu, pasti Kila akan sukses. Dan Ayah juga akan bangga melihat kila dari sana."
Isak tangis haru jatuh dari mata sang Ibunda. Mendengar penjelasan Kila ia sangat lega. Karena anaknya sudah bisa mengalahkan egonya dan bangkit dari depresi.
Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa hidup hanyalah sebuah perjalanan. Oleh karena itu, selalu semangat dan optimis untuk meraih masa depan. Karena kita tak boleh selamanya tenggelam dalam masa lalu yang suram.
Penulis | : Ayu Nur L. | |
Editor | : Sendi Dwi R. |