Menelusuri Perjalanan Isra’ Mi'raj Nabi Muhammad SAW dari Kaca Mata Iman dan Ilmu Pengetahuan

Isra’ Mi'raj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam, yang menjadi cikal bakal diwajibkannya sholat lima waktu bagi umat Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini juga menggambarkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT. 

Bagaimana tidak? Dengan izin Allah SWT dan atas dasar kehendak-Nya, Rasulullah SAW mampu menaklukkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh manusia lain. Rasulullah SAW dapat menembus batas-batas materi alam semesta yang menurut catatan berjarak 13,7 miliar tahun cahaya. Perjalanan ini dimulai dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina, yang dikenang sebagai peristiwa Isra’. Selanjutnya, dari Masjid al-Aqsha, perjalanan berlanjut menuju Sidrat al-Muntaha, melintasi tujuh lapis langit. Peristiwa ini dikenal sebagai Mi’raj, sebuah tempat yang tidak dapat dicapai oleh makhluk lain, termasuk malaikat Jibril, kecuali Nabi Muhammad Saw. Hal ini didasarkan pada surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ  

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya (Masjidil aqsa dan daerah sekitarnya diberkahi Allah Swt., di antaranya, dengan diutusnya banyak nabi di sana dan dengan kesuburan tanahnya.) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Nabi Muhammad dapat menempuhnya dalam waktu yang relatif sangat singkat dan jarak yang sangat jauh, yaitu dalam waktu kurang lebih dua pertiga malam dengan menunggangi Buroq. 

Buraq: Simbol Kemuliaan dan Kecepatan Luar Biasa

Dalam literatur kitab kuning, karya Syekh Najmuddin al-Ghaithi yang berjudul Qishshatul Mi'raj yang dilengkapi dengan catatan kritis dan penjelasan yang lebih mendalam oleh Sayyid Ahmad al-Dardiri disebutkan: 

البُرَاقُ بِضَمِ الْمُوَحَدَةِ مَأْخُذَةً مِنَ الْبَرِيق بمعنى البياض لما يأتي من أنه أبيض وهُوَ أَشْرَفَ الْأَلْوَانِ أَوْ مِنَ البرق لسرعة سيره أرسله الله تعالى له اجلالاً وتعظيمًا عَلَى عَادَة الْمُلُوكِ

Buraq, dengan huruf ba’ bertitik satu dan dibaca dhommah, berasal dari kata bariiq yang berarti putih, merujuk pada warna hewan tersebut yang putih bersih, simbol kemuliaan. Selain itu, kata barqi yang berarti kilat, menggambarkan kecepatan luar biasa yang dimiliki Buraq. Hewan ini diutus oleh Allah SWT sebagai tunggangan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi’raj, dengan tujuan memuliakan dan mengagungkan perjalanan spiritual yang melampaui batas alam semesta.

Dalam kitab Sirojul Wahab fil Isra wal Mi'raj, disebutkan bahwa Buraq mampu menempuh jarak sejauh apa pun dalam sekejap mata: وَ يَقْطَعُ الْمَسَافَاتِ الْبَعِيْدَةَ فِي اَقْرَبَ مِنْ لَمْحِ الْبَصَرِ.

Hal ini sangat ditolak oleh pemikiran orang-orang kafir saat itu dan menjadi penguat keimanan bagi umat Islam. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW didampingi oleh dua Malaikat, yaitu Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Israfil turut mendampingi. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah SAW melihat sebagian tanda-tanda kebesaran kekuasaan Allah SWT yang paling besar. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى  

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang  asli) ada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrat al-Muntaha. Di dekatnya ada surga  tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi  oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling  dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah  melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar.” (QS.  Al-Najm [53]:18) 

Isra Mi'raj dan Perspektif Sains Modern

Peristiwa Isra Mi'raj tidak hanya memperkuat keimanan umat Islam, tetapi juga menarik perhatian ilmuwan modern. Dalam teori relativitas Einstein, perjalanan melintasi ruang-waktu seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dapat dikaitkan dengan konsep lubang cacing (wormhole). Lubang cacing adalah fenomena hipotetis yang memungkinkan perjalanan antarbintang dengan sangat cepat, melampaui jarak ruang-waktu biasa.

Nabi Muhammad SAW menempuh perjalanan dari bumi menuju Sidrat al-Muntaha, yang berada di luar batas-batas ruang materi. Bahkan, saat Rasulullah SAW kembali, tempat tidur beliau masih terasa hangat, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Maulid Ad-Diba’i karya Al-Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba`i Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi`i :

ثُمَّ أَرُدُّهٗ مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ

"Dan aku kembalikannya ( Nabi Muhammad SAW) dari arsy Sebelum tempat tidurnya dingin." menunjukkan bahwa perjalanan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, meski menempuh jarak luar biasa. Hal ini melampaui batas logika manusia, menjadi bukti nyata kebesaran Allah SWT.

Sebagai gambaran, jarak dari bumi ke beberapa lapisan atmosfer adalah sebagai berikut:

Troposfer: 0-12 km

Stratosfer: 12-50 km

Mesosfer: 50-85 km

Termosfer: 85-600 km

Eksosfer: 600-10.000 km

Sedangkan jarak bumi ke bulan mencapai 384.400 km, dan jarak ke bintang terdekat diukur dalam skala tahun cahaya. Namun, semua jarak ini menjadi tidak berarti dalam konteks perjalanan Isra Mi’raj yang melampaui batas alam semesta.

Hikmah Isra Mi'raj

Isra Mi'raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, pada tahun yang dikenal sebagai "Aamul Huzni" atau tahun kesedihan. Saat itu, Nabi Muhammad SAW kehilangan istri tercinta, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi penghibur sekaligus penguat keimanan Rasulullah SAW, memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang luar biasa.

Dalam pandangan agama, Isra Mi'raj adalah bukti nyata kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia. Dari sudut pandang sains, peristiwa ini memicu diskusi tentang ruang-waktu, kecepatan cahaya, dan misteri perjalanan luar angkasa. Hal ini menjadikan Isra Mi'raj sebagai peristiwa yang menghubungkan iman dan ilmu pengetahuan dalam harmoni yang menakjubkan.

Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengajarkan keimanan mendalam kepada umat Islam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik keterbatasan manusia, selalu ada kuasa Allah SWT yang tidak terbatas. Subhanallah!

Penulis  : Surya Pradana

Anda mungkin menyukai postingan ini